Sosial
Pada awal abad yang baru ini, peradaban dunia dibawa ke dalam situasi yang
paradoks. Di satu sisi, globalisasi telah melahirkan kesadaran manusia sebagai penghuni
satu bumi. Sekat ruang dan waktu terasa sirna dihempas gelombang teknologi yang
merambah dunia, akselarasi informasi dan komunikasi yang tak lagi mampu
dihambat, yang semuanya itu menciptakan fenomena yang mengglobal. Namun di sisi
lain, globalisasi pun telah merangsang munculnya kecenderungan lokalisasi,
seperti munculnya aliansi regionalisme ekonomi, menguatnya kesadaran etnik,
serta pencarian jati diri dari berbagai komunitas, beserta faham-faham yang
menyertainya seperti gerakan fundamentalisme agama, militansi etnik,
solidaritas teritorial dan berbagai fenomena komunitas lainnya.
Dalam realitas kebangsaan Indonesia, fenomena global juga memberikan dampak
terhadap paradigma masyarakat. Pada satu sisi fenomena ini mendorong masyarakat
untuk mencapai kesejahteraan hidup dalam kehidupan sebagai satu bangsa. Namun,
pada sisi yang lain, bangsa ini telah memasuki ruang-ruang kepentingan
komunitas, kelompok, dan kepentingan primordialisme lainnya yang merasuk dalam
berbagai dimensi kehidupan berbangsa dan bernegara yaitu kehidupan politik,
ekonomi, sosial, budaya dan masyarakat.
Tak dapat dipungkiri bahwa bangsa Indonesia telah cukup lama berdaya upaya
untuk menggagas demokrasi. Banyak pihak berpendapat bahwa demokrasi berakar
pada nilai-nilai budaya bangsa, karenanya demokrasi bukanlah sesuatu yang baru
bagi Indonesia, akan tetapi realitas yang ada adalah bahwa bangsa ini belum
berhasil merumuskan konsep demokrasi yang substansial. Pembangunan demokrasi
sangat erat kaitannya dengan partisipasi aktif masyarakat sebagai subjek dari
demokrasi tersebut. Masyarakat harus memiliki kesadaran dan kepekaan untuk
memainkan perannya dalam mendorong terjadinya pembangunan yang adil dan merata
bagi segenap rakyat Indonesia.
Dalam perjalanan waktu, masyarakat Indonesia harus menyesuaikan diri dengan
perkembangan zaman yang ada sekarang ini. Perkembangan teknologi informasi,
akulturasi budaya, ekonomi global, dan banyak perkembangan zaman lainnya
seharusnya tidak menjadi hambatan masyarakat dalam menjalankan perannya melakukan
perubahan bagi dirinya dan lingkungan sekitarnya. Masyarakat harus bersifat
dinamis menyesuaikan diri dengan zaman, namun tetap mengedepankan aturan dan
norma-norma yang berlaku di Indonesia. Sehingga walaupun mengikuti perkembangan
yang terjadi di dunia, masyarakat tetap menjunjung tinggi kultur khas dari
bangsa Indonesia.
Masyarakat Indonesia sekarang ini sudah mulai fasih memberdayakan teknologi
informasi. Masyarakat menggunakan media sosial untuk berbagai aktivitas seperti
bisnis online, publikasi kegiatan, menyampaikan gagasan, ataupun sekedar
bertegur sapa dengan teman dan kolega. Kecenderungan masyarakat saat ini juga
lebih suka sesuatu yang instan, cepat, dan tidak menghabiskan waktu.
Fenomenanya dapat kita lihat bersama. Masyarakat yang dulu lebih senang
berlama-lama membaca koran cetak, sekarang ini sudah cukup puas dengan membaca
berita di twitter ataupun membaca koran secara digital sambil naik angkutan
umum ke tempat kerja/kampus. Kita dapat melihat di angkutan umum
seperti busway, angkot, kereta, dan angkutan massal lainnya, masyarakat
menggunakan waktu perjalanannya untuk berselancar di dunia maya. Bahkan tidak
jarang dalam sela-sela aktivitas kerja ataupun belajar, masyarakat menyempatkan
diri untuk berjejaring sosial.
Saat ini telah banyak jasa jejaring sosial yang tersedia untuk diakses oleh
masyarakat. Mulai dari Friendster yang ramai digunakan oleh masyarakat
Indonesia di tahun 2002-2006, dilanjutkan dengan Facebook, MySpace, YouTube,
Flickr, Twitter, dan lainnya. Setiap jejaring sosial menyediakan fasilitas yang
unik dan berbeda-beda. Beberapa contohnya antara lain:
Friendster
Friendster merupakan salah satu jejaring sosial pertama yang populer di
Indonesia. Jejaring sosial ini menawarkan konten dimana pengguna bisa membuat
sebuah profil yang bisa terhubung ke profil orang lain. Kita dapat mengunggah
foto ataupun menuliskan aktivitas kita di profil yang kita buat. Jejaring
sosial ini populer pada awal tahun 2002 hingga 2006.
YouTube
YouTube adalah sebuah situs yang menyediakan konten untuk berbagi video, audio,
berita, dan lainnya. Kita dapat mencari, mengunggah, ataupun mengunduh berbagai
jenis data di website ini. Umumnya masyarakat menggunakan jejaring sosial ini
untuk berbagi video dan berita.
Facebook adalah jejaring sosial paling populer yang masih digunakan masyarakat
hingga saat ini. Facebook didirikan oleh Mark Zuckerberg pada tahun 2004.
Jejaring sosial ini menawarkan konten dan fasilitas yang lebih lengkap dari
jejaring sosial lainnya. Fasilitas yang diandalkan dari jejaring ini antara
lain konten chat, berbagi foto dan video, beragam permainan Facebook,
ataupun dapat berbagi status maupun catatan (note). Saat ini ada lebih dari 600
juta orang di dunia yang menggunakan Facebook dan Indonesia merupakan salah
satu negara penyumbang pengguna terbanyak.
Twitter adalah jejaring sosial yang menfokuskan diri
pada micro-blogging. Namun fokus ini menjadi keunggulan tersendiri
dari Twitter. Twitter memungkinkan kita untuk mengikuti (follow) teman
maupun orang lain yang ingin kita ketahui aktivitasnya. Kita juga dapat berbagi
informasi terkini melalui jejaring ini. Twitter banyak digunakan oleh
tokoh-tokoh masyarakat maupun artis untuk menyampaikan aktivitasnya maupun
pemikiran-pemikiran dari tokoh-tokoh tersebut. Bahkan berbagai situs baik situs
berita, lembaga pemerintahan, perusahaan, dan lainnya menggunakan media ini
untuk menyampaikan aktivitasnya.
Change.org
Change.org adalah jejaring sosial yang digunakan sebagai wadah bagi masyarakat
untuk memberikan petisi terkait suatu kondisi ataupun permasalahan. Banyak
digunakan oleh masyarakat global untuk mengangkat isu-isu yang terjadi di
lingkungan dunia. Masyarakat Indonesia sendiri mulai menggunakannya pada tahun
2010. Banyak permasalahan yang terjadi di tengah masyarakat yang kemudian diangkat
melalui media ini seperti terkait ekosistem Gunung Leuser, stop mobil murah,
dan kampanye-kampanye lainnya.
B. Perubahan Sosial
Fenomena belakangan ini, Gerakan-gerakan di Timur Tengah, Brasil, dan
negara-negara lainnya yang merintis terjadinya perubahan sosial diawali dengan
gerakan di media sosial. Diskusi-diskusi yang selama ini dilakukan secara
bertatap mata di dunia nyata juga mulai beralih ke dunia maya. Oleh karena itu,
di era sekarang ini media sosial telah menjadi salah satu ujung tombak gerakan
pemikiran dalam mendorong terjadinya perubahan sosial di tengah masyarakat.
Berbagai lembaga seperti lembaga pemerintah, perusahaan, lembaga masyarakat
seperti NGO dan LSM mengganggap teknologi informasi ini penting sehingga
memiliki pengurus/pegawai di bidang komunikasi. Mereka memiliki tugas untuk
rutin mengunggah setiap informasi aktivitas dan data terkait tugas dan tanggung
jawab dari lembaga tersebut. Harapannya masyarakat ataupun pendukung lembaga
tersebut akan mendapatkan perkembangan aktivitas lembaga tersebut
secara update.
Saat ini, informasi bisa diakses oleh masyarakat dengan cepat. Berita yang
terjadi di pulau bahkan belahan dunia lain dapat diketahui hanya dalam hitungan
menit bahkan detik. Ini jauh berbeda dengan era sebelum perkembangan teknologi
informasi dimana informasi ataupun berita baru bisa diketahui setelah menunggu
beberapa hari, minggu, bahkan bulan. Kondisi ini memberikan pengaruh terhadap
perubahan sosial. Masyarakat, baik di perkotaan maupun perdesaan, ataupun di pusat
maupun daerah dapat mengetahui setiap informasi dan berita yang terjadi di
tengah masyarakat dalam waktu yang cepat. Hal inilah yang dimanfaatkan oleh
gerakan sosial di Brazil dan Timur Tengah, dan beberapa kali juga dimanfaatkan
oleh masyarakat Indonesia.
Masyarakat Indonesia mulai memberdayakan jejaring sosial untuk melakukan
advokasi dan kampanye terhadap berbagai permasalahan masyarakat maupun
kebijakan yang tidak sesuai dengan kehendak masyarakat. Dalam prakteknya,
beberapa kampanye dan advokasi yang dilakukan dengan jejaring sosial berhasil
mencapai tujuannya. Kita dapat mengingat kampanye “koin untuk Prita” yang
didukung oleh ribuan masyarakat yang bahkan tidak pernah kenal ataupun bertemu
dengan Prita. Begitu juga sekarang ini banyak kampanye yang sedang dijalankan,
baik melalui media Facebook, Twitter, Change.org, dan lainnya.
Dalam artikel koran Kompas bulan November lalu, dituliskan topik tentang
Demokrasi Digital. Terdapat tiga pembagian generasi sesuai dengan perkembangan
zaman. Adapun pembagian tersebut antara lain:









































